Overview

Long weekend ini kami memilih berjalan pelan di Magelang. Dimulai dari sunrise hangat di Umbul Roso, menikmati sarapan legendaris Sop Senerek, hingga berdiri takjub di Candi Borobudur yang megah. Perjalanan sederhana yang menghadirkan ketenangan, kehangatan, dan makna dalam satu hari yang utuh bersama keluarga.

Pelan di Magelang: Berendam Air Panas, Sarapan Legenda, dan Keajaiban Dunia

Long weekend kali ini kami tidak ingin terburu-buru. Setelah tiba di Jogja malam sebelumnya, kami sepakat memulai pagi lebih awal dan bergerak ke arah Magelang. Jam empat subuh kami sudah di jalan. Udara masih dingin dan langit perlahan berubah warna. Rasanya berbeda. Tidak ada macet, tidak ada klakson. Perjalanan sunyi justru terasa menenangkan. Tujuan pertama kami jelas, berendam air hangat di Umbul Roso.

Umbul Roso, Sunrise Hangat di Dalam Pelukan Air Panas

Sekitar jam lima pagi kami tiba di Umbul Roso. Kabut tipis masih menggantung dan di tengah dinginnya udara, kolam air panas mengepul lembut. Pancuran gajah kembar mengalir tanpa henti, memancarkan air hangat alami langsung dari dalam bumi. Berdiri di bawah pancuran itu rasanya seperti terapi yang sederhana namun nyata. Airnya jatuh deras, memijat punggung, bahu, dan pinggang. Hangatnya meresap perlahan dan membuat tubuh benar-benar rileks. Bagi yang sering pegal atau boyokan, sensasinya terasa seperti dilepaskan satu per satu. Untuk orang tua, air ini seperti hadiah pagi yang menenangkan sendi dan otot. Udara tetap dingin, tetapi tubuh hangat. Kontras itu membuat momen terasa sempurna. Sambil berendam, kami menyaksikan matahari naik perlahan. Waktu seolah melambat dan memberi ruang untuk diam serta menikmati pagi dengan utuh.

Sop Senerek, Hangat yang Kedua

Setelah tubuh segar, perjalanan berlanjut ke Magelang kota untuk sarapan. Pilihan kami jatuh pada Sop Senerek yang sudah lama dikenal sebagai kuliner legendaris. Kuahnya hangat dan terasa dalam. Kacang merahnya lembut, potongan dagingnya empuk, dan aromanya langsung terasa sejak mangkuk diletakkan di meja. Ini bukan makanan yang dibuat untuk mengikuti tren, tetapi resep yang dijaga dari generasi ke generasi. Di warung sederhana itu, kami makan perlahan. Setiap sendok terasa menghangatkan dari dalam. Rasanya seperti kelanjutan alami dari Umbul Roso, hangat yang kedua dalam perjalanan kami hari itu.

Borobudur, Penutup yang Megah

Perjalanan kami lanjutkan ke Candi Borobudur. Dari ketenangan air panas dan kesederhanaan sarapan lokal, kini kami berdiri di depan mahakarya yang telah ada sejak abad ke delapan. Memasuki area kompleks, kami melewati gerbang utama dengan taman yang tertata rapi. Hamparan rumput hijau dan pepohonan yang teduh membuat suasana terasa nyaman. Jalur pejalan kaki yang bersih membawa kami perlahan mendekati bangunan utama. Dari kejauhan saja, siluetnya sudah terlihat begitu agung. Borobudur dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar tahun 780 hingga 840 Masehi. Candi ini tersusun dari jutaan balok batu andesit yang dirangkai dengan presisi tanpa menggunakan semen. Saat menaiki tiap tingkatannya, kami melihat relief yang terpahat detail di sepanjang dinding. Relief itu menceritakan perjalanan hidup, nilai moral, dan kisah spiritual yang mendalam. Rasanya seperti menyusuri cerita panjang peradaban masa lalu. 

Semakin ke atas, suasana terasa semakin hening. Angin berembus lembut dan deretan stupa dengan arca Buddha di dalamnya membentuk pemandangan yang sangat ikonik. Dari puncaknya, kami bisa melihat lanskap Magelang yang hijau dengan latar perbukitan dan langit luas. Ada rasa kagum sekaligus kecil ketika menyadari bangunan ini telah bertahan lebih dari seribu tahun dan tetap berdiri megah hingga hari ini. Hari itu terasa sederhana tetapi penuh makna. Dimulai dari hangatnya air, dilanjutkan hangatnya kuah, dan ditutup oleh kebesaran sejarah. Bagi kami, Magelang bukan hanya tempat singgah. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak, bernapas lebih dalam, dan menikmati perjalanan sebagai keluarga dengan lebih sadar dan lebih utuh.


Other collections to help you on your journey